Hidup
tanpa Pengharapan
Karya :
Diasa
“bangun……!!!” suara yang
menakutkan terdengar memanggilku. Oh sial, bayangin coba, hari ini hari minggu,
aku harus dibangunin jam 06.00 pagi, apes banget hari ini. Aku datang
menghampiri panggilan itu yang datang dari arah dapur. Oh god, itu ibu, ada apa
coba. Kayak gak kenal anaknya.
Jadi namaku Delon pitranuansa, aku akrab dipanggil delon. Lumayan
aneh, tapi nama itu diberikan khusus oleh ayah tercintaku. Jadi aku adalah
seorang siswa dari salah satu SMA terbaik di kotaku. Aku kini berada di kelas 2
di SMAN 1 Patimura.
“ada apa bu? pagi-pagi bangunin delon.” kataku males.
“delon,
kamu ini sudah SMA, masak kamu masih malas begini.” Jawab
ibu.
“ya sih bu, tapi hari ini
kan hari minggu.” ucapku.
“sudah,
gak ada alasan lagi, sekarang mandi dan anterin ibu ke pasar.” Kata Ibu
marah.
“ngapain ke pasar bu?.” Tanyaku.
“ibu mau
beli sayur, sayur di kulkas sudah habis.” Jawab ibu.
“ya bu,
delon mandi ya.” Ucapku.
Lalu aku mandi, dan “Brrrrrrrrr….” Sumpah airnya dingin banget,
tapi aku lanjutin. Sehabis mandi, aku langsung mengantar ibu ke pasar. Sial,
keren banget ternyata. Maklum aku belum pernah ke pasar sebelumnya. Sambil
tengok kanan kiri. Asikkk… tenan, banyak teman sekolah yang aku temui di pasar,
dan akhirnya sampai di tempat tukang sayur. Dan bahagianya, ternyata pedagang
sayurnya adalah cewek cantik. Dia mengaku berasal dari des tetangga sebelah. Sumpah,
gak peduli anak siapa, aku langsung terpesona akan kecantikannya. Ibuku juga
terlihat akrab dengannya. Dan pasti ibu setuju pikirku. Hari itu adalah hari
yang menyenangkan bisa bertemu seseorang yang tersayang di tempat yang special.
Sejak saat itu, kami mulai lebih akrab. Kadang kami ketemuan untuk makan
bareng. Sampai suatu hari, karena aku sudah tidak tahan memendam rasa ini, jadi
aku putuskan untuk nembak dia setelah pulang sekolah. Aku mengajak anissa ketemuan di taman kota.
15 menit aku nunggu anissa akhirnya datang juga.
“hay delon, sudah lama ya nunggunya?” Tanya
anissa.
“gak, baru kok” jawabku.
“niss, ada
yang mau aku omongkan ke kamu.” Ucapku agak sedikit gugup. Maklum
baru pertama kali.
“ya, ada
apa? Bilang saja, mungkin aku bisa bantu.” Ucap
anissa.
“ya niss,
mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi, terus terang aku sudah tidak kuat
menahan rasa ini. Jadi hari ini aku bermaksud menyampaikan perasaan yang sudah
lama aku pendam, Jadi kesimpulannya, apakah kamu mau jadi pacar aku?.” Tanyaku
dengan rasa yang gak karuan.
“ya, tapi,
kalau kamu gak mau, ya gak apa-apa kok. Santai saja.” Tambahku.
Sejenak suasana mendadak hening. aku gak tau harus bilang apa
lagi. Tiba-tiba anissa menjawab.
Jawab anissa. Yang hampir membuatku pingsan.
Rasanya aku ingin meloncat dari jurang dan terbang melayang. Sungguh, hari itu
adalah hari yang sangat berkesan dalam hidupku. Enaknya, aku gak sendiri lagi,
dan aku bisa menutupi status jomblo ku.
Hari-hariku terasa berbunga setiap harinya, karena anissa. Dia
sangat memotivasi aku. Dia pernah bertanya padaku, kalau besar nanti aku mau
jadi apa?. Dengan agak sedikit iseng, aku gombal sedikit. Ya, cukup menjadi
pejaga hatimu dan selalu berada di sampingnu saja. Anissa tampak malu-malu.
Kami sudah sangat akrab hingga aku lulus SMA dengan nilai yang sangat
memuaskan. Aku sangat senang, karena ini berkat motivasi dari anissa. Aku pernah
berfikir untuk menikah dengan anissa nanti setelah aku bekerja dan sukses, dan
aku sempat berbicara dengan anissa, tentang rencanaku, tapi dia hanya menjawab
satu hal yaitu, aku harus belajar dulu, jangan memikirkan yang lain. Aku selalu
teringat dengan kata-katanya. Aku sangat mencintai anissa, tak seorangpun bisa
memisahkan aku dengan anissa. Kami sempat mengukir nama kami berdua di batang
pohon cemara. Dan mengikararkan janji. Bahwa kami akan selalu bersama sampai
akhir nanti. Itu ikrar kami, aku langsung memeluk anissa dan aku tidak menahan
rasa haruku.
Tahun ini aku sudah masuk kuliah semester 3. Aku selalu berbagi
dengan anissa tentang masalah disekolah. Kadang dia menertawakan aku dan
menyemangatiku. Aku kini hanya menunggu hari wisudaku, lagi 5 semester. Tak
sabar rasanya. Jika aku lullus nanti, aku sudah siap melamar anissa. Masalah
pekerjaan sudah beres, karena aku ditawarkan pekerjaan sebagai management
control di salah satu perusahaan pamanku. Aku kembali menanyakan hal ini kepada
Anissa,dan anissa pun setuju.
Suatu hari, anissa mengalami keanehan. Di saat aku sedang
berbicara dengan anissa. Ibu melihatku berbicara sendiri. “delon, kamu bicara dengan siapa?” Tanya ibu terheran.
“ibu, ini
ada anissa bu.” Jawabku.
“ada-ada
saja kamu lon, kenapa semenjak lulus SMA, kamu jadi sering bicara sendiri.” Ucap ibu.
Dan ternyata, kejadian ini terjadi sudah sejak lama. Aku bingung
dan ternyata anissa juga menghilang tidak jelas, seperti ditelan bumi. Aku
sempat menanyakan hal ini kepada anissa, tapi dia hanya menjawab dengan senyum
dan menggelengkan kepala.
Sampai suatu hari. Aku bermimpi aneh, aku sedang bersama dengan
anissa. Dia mengatakan kepada ku.
“delon, aku disini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal
kepadamu. Aku sangat mencintaimu.” Kata anissa dalam mimpi.
Setelah itu, aku langsung terbangun dan menelepun anissa.
Perasaanku cemas. Lama menunggu yang terdengar hanya “tuuuuuuuuuttttttttttt…..” telpun anissa tidak diangkat. Aku
semakin cemas. Aku segera bergegas untuk pergi ke rumah anissa, seperti yang
anissa bilang dulu. Karena semenjak lulus SMA aku belum pernah bermain ke rumah
anissa. Akhirnya ketemu. Tapi rumah anissa kosong. Aku hanya bertemu dengan
seseorang yang berjubah putih yang mengaku sebagai tetangga anissa. Aku
bertanya dengan orang yang berjubah putih itu.
“maaf,
apakah anda tau pemilik rumah ini?” tanyaku penasaran.
“nak, kamu
ini siapa dan darimana” orang itu bertanya kembali padaku.
“aku anak
dari desa sebelah, jadi apakah anda tau pemilik rumah ini.” Aku
berusaha bertanya.
“pemilik
rumah ini sudah lama pergi, karena sebuah kejadian yang menimpa anaknya.” Kata
orang berjubah itu dengan suara yang terbata dan sedih.
“anaknya bernama
anissa, dia meninggal 3 tahun lalu, karena kecelakaan, ketika dia hendak pergi
ke sekolah pacarnya untuk mengucapkan selamat kepada delon pacarnya, hal yang
tidak di inginkan terjadi, dia menitipkan pesan, agar nanti jika pacarnya
datang, agar pacarnya tahu bahwa dia sangat mencintainya.” Lanjut
orang berjubah itu.
Hatiku mendadak sakit. Nafasku terasa habis, dan hanya tersisa
sedikit saja. Aku tersengal-sengal dan duduk di tanah. Sementara orang itu
melanjutkan ceritanya.
“jadi,
selama ini dia bangkit dalam matinya, untuk menemani dan menjaga orang yang
paling dikasihinya. Jadi dia datang untuk kamu delon.” Tegas
orang berjubah itu.
Aku semakin sakit, dan darimana dia tau kalau aku delon. Seketika
tampak seberkas cahaya datang mendekat.
“delon!” suara
lembut dan manis terdengar dari cahaya itu.
“terimakasih
atas semua yang telah kamu berikan untukku, aku sangat mencintaimu.” Kata
anissa.
Aku menangis, aku tidak tau yang harus aku katakan. Aku berusaha
bangkit dan memeluk arwah anissa. Ajaib, aku bisa memeluknya dan dia juga
memeluk erat tubuhku.
“aku juga
akan selalu mencintaimu anissa…Hssttttt.” Bisikku.
Namun semua terjadi sekejap. Kini anissa sudah menghilang bersama
orang yang berjubah putih itu. Aku terjatuh dalam sedihku, duniaku menghilang
sekejap. Hatiku matirasa tanpa pengharapan. Kini tidak ada lagi kehidupan
untuku, karena janjiku yang terukir akan selalu manyertaiku.
~The End~
yha.. semoga bermanfaat... untuk yang buka inget like dan komennya yhaaa......
BalasHapus