Jumat, 02 Mei 2014



Hidup tanpa Pengharapan
Karya : Diasa
bangun……!!!” suara yang menakutkan terdengar memanggilku. Oh sial, bayangin coba, hari ini hari minggu, aku harus dibangunin jam 06.00 pagi, apes banget hari ini. Aku datang menghampiri panggilan itu yang datang dari arah dapur. Oh god, itu ibu, ada apa coba. Kayak gak kenal anaknya.
Jadi namaku Delon pitranuansa, aku akrab dipanggil delon. Lumayan aneh, tapi nama itu diberikan khusus oleh ayah tercintaku. Jadi aku adalah seorang siswa dari salah satu SMA terbaik di kotaku. Aku kini berada di kelas 2 di SMAN 1 Patimura.
ada apa bu?  pagi-pagi bangunin delon. kataku males.
“delon, kamu ini sudah SMA, masak kamu masih malas begini.” Jawab ibu.
ya sih bu, tapi hari ini kan hari minggu.” ucapku.
“sudah, gak ada alasan lagi, sekarang mandi dan anterin ibu ke pasar.” Kata Ibu marah.
ngapain ke pasar bu?.” Tanyaku.
“ibu mau beli sayur, sayur di kulkas sudah habis.” Jawab ibu.
“ya bu, delon mandi ya.” Ucapku.
Lalu aku mandi, dan “Brrrrrrrrr….” Sumpah airnya dingin banget, tapi aku lanjutin. Sehabis mandi, aku langsung mengantar ibu ke pasar. Sial, keren banget ternyata. Maklum aku belum pernah ke pasar sebelumnya. Sambil tengok kanan kiri. Asikkk… tenan, banyak teman sekolah yang aku temui di pasar, dan akhirnya sampai di tempat tukang sayur. Dan bahagianya, ternyata pedagang sayurnya adalah cewek cantik. Dia mengaku berasal dari des tetangga sebelah. Sumpah, gak peduli anak siapa, aku langsung terpesona akan kecantikannya. Ibuku juga terlihat akrab dengannya. Dan pasti ibu setuju pikirku. Hari itu adalah hari yang menyenangkan bisa bertemu seseorang yang tersayang di tempat yang special. Sejak saat itu, kami mulai lebih akrab. Kadang kami ketemuan untuk makan bareng. Sampai suatu hari, karena aku sudah tidak tahan memendam rasa ini, jadi aku putuskan untuk nembak dia setelah pulang sekolah.  Aku mengajak anissa ketemuan di taman kota. 15 menit aku nunggu anissa akhirnya datang juga.
“hay  delon, sudah lama ya nunggunya?” Tanya anissa.
“gak, baru kok” jawabku.
“niss, ada yang mau aku omongkan ke kamu.” Ucapku agak sedikit gugup. Maklum baru pertama kali.
“ya, ada apa? Bilang  saja, mungkin aku bisa bantu.” Ucap anissa.
“ya niss, mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi, terus terang aku sudah tidak kuat menahan rasa ini. Jadi hari ini aku bermaksud menyampaikan perasaan yang sudah lama aku pendam, Jadi kesimpulannya, apakah kamu mau jadi pacar aku?.” Tanyaku dengan rasa yang gak karuan.
“ya, tapi, kalau kamu gak mau, ya gak apa-apa kok. Santai saja.” Tambahku.
Sejenak suasana mendadak hening. aku gak tau harus bilang apa lagi. Tiba-tiba anissa menjawab.
  Jawab anissa. Yang hampir membuatku pingsan. Rasanya aku ingin meloncat dari jurang dan terbang melayang. Sungguh, hari itu adalah hari yang sangat berkesan dalam hidupku. Enaknya, aku gak sendiri lagi, dan aku bisa menutupi status jomblo ku.
Hari-hariku terasa berbunga setiap harinya, karena anissa. Dia sangat memotivasi aku. Dia pernah bertanya padaku, kalau besar nanti aku mau jadi apa?. Dengan agak sedikit iseng, aku gombal sedikit. Ya, cukup menjadi pejaga hatimu dan selalu berada di sampingnu saja. Anissa tampak malu-malu. Kami sudah sangat akrab hingga aku lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Aku sangat senang, karena ini berkat motivasi dari anissa. Aku pernah berfikir untuk menikah dengan anissa nanti setelah aku bekerja dan sukses, dan aku sempat berbicara dengan anissa, tentang rencanaku, tapi dia hanya menjawab satu hal yaitu, aku harus belajar dulu, jangan memikirkan yang lain. Aku selalu teringat dengan kata-katanya. Aku sangat mencintai anissa, tak seorangpun bisa memisahkan aku dengan anissa. Kami sempat mengukir nama kami berdua di batang pohon cemara. Dan mengikararkan janji. Bahwa kami akan selalu bersama sampai akhir nanti. Itu ikrar kami, aku langsung memeluk anissa dan aku tidak menahan rasa haruku.
Tahun ini aku sudah masuk kuliah semester 3. Aku selalu berbagi dengan anissa tentang masalah disekolah. Kadang dia menertawakan aku dan menyemangatiku. Aku kini hanya menunggu hari wisudaku, lagi 5 semester. Tak sabar rasanya. Jika aku lullus nanti, aku sudah siap melamar anissa. Masalah pekerjaan sudah beres, karena aku ditawarkan pekerjaan sebagai management control di salah satu perusahaan pamanku. Aku kembali menanyakan hal ini kepada Anissa,dan anissa pun setuju.
Suatu hari, anissa mengalami keanehan. Di saat aku sedang berbicara dengan anissa. Ibu melihatku berbicara sendiri. “delon, kamu bicara dengan siapa?” Tanya ibu terheran.
“ibu, ini ada anissa bu.” Jawabku.
“ada-ada saja kamu lon, kenapa semenjak lulus SMA, kamu jadi sering bicara sendiri.” Ucap ibu.
Dan ternyata, kejadian ini terjadi sudah sejak lama. Aku bingung dan ternyata anissa juga menghilang tidak jelas, seperti ditelan bumi. Aku sempat menanyakan hal ini kepada anissa, tapi dia hanya menjawab dengan senyum dan menggelengkan kepala.
Sampai suatu hari. Aku bermimpi aneh, aku sedang bersama dengan anissa. Dia mengatakan kepada ku.
“delon, aku disini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Aku sangat mencintaimu.” Kata anissa dalam mimpi.
Setelah itu, aku langsung terbangun dan menelepun anissa. Perasaanku cemas. Lama menunggu yang terdengar hanya “tuuuuuuuuuttttttttttt…..” telpun anissa tidak diangkat. Aku semakin cemas. Aku segera bergegas untuk pergi ke rumah anissa, seperti yang anissa bilang dulu. Karena semenjak lulus SMA aku belum pernah bermain ke rumah anissa. Akhirnya ketemu. Tapi rumah anissa kosong. Aku hanya bertemu dengan seseorang yang berjubah putih yang mengaku sebagai tetangga anissa. Aku bertanya dengan orang yang berjubah putih itu.
“maaf, apakah anda tau pemilik rumah ini?” tanyaku penasaran.
“nak, kamu ini siapa dan darimana” orang itu bertanya kembali padaku.
“aku anak dari desa sebelah, jadi apakah anda tau pemilik rumah ini.” Aku berusaha bertanya.
“pemilik rumah ini sudah lama pergi, karena sebuah kejadian yang menimpa anaknya.” Kata orang berjubah itu dengan suara yang terbata dan sedih.
“anaknya bernama anissa, dia meninggal 3 tahun lalu, karena kecelakaan, ketika dia hendak pergi ke sekolah pacarnya untuk mengucapkan selamat kepada delon pacarnya, hal yang tidak di inginkan terjadi, dia menitipkan pesan, agar nanti jika pacarnya datang, agar pacarnya tahu bahwa dia sangat mencintainya.” Lanjut orang berjubah itu.
Hatiku mendadak sakit. Nafasku terasa habis, dan hanya tersisa sedikit saja. Aku tersengal-sengal dan duduk di tanah. Sementara orang itu melanjutkan ceritanya.
“jadi, selama ini dia bangkit dalam matinya, untuk menemani dan menjaga orang yang paling dikasihinya. Jadi dia datang untuk kamu delon.” Tegas orang berjubah itu.
Aku semakin sakit, dan darimana dia tau kalau aku delon. Seketika tampak seberkas cahaya datang mendekat.
“delon!” suara lembut dan manis terdengar dari cahaya itu.
“terimakasih atas semua yang telah kamu berikan untukku, aku sangat mencintaimu.” Kata anissa.
Aku menangis, aku tidak tau yang harus aku katakan. Aku berusaha bangkit dan memeluk arwah anissa. Ajaib, aku bisa memeluknya dan dia juga memeluk erat tubuhku.
“aku juga akan selalu mencintaimu anissa…Hssttttt.” Bisikku.
Namun semua terjadi sekejap. Kini anissa sudah menghilang bersama orang yang berjubah putih itu. Aku terjatuh dalam sedihku, duniaku menghilang sekejap. Hatiku matirasa tanpa pengharapan. Kini tidak ada lagi kehidupan untuku, karena janjiku yang terukir akan selalu manyertaiku.
                                            ~The End~

1 komentar:

  1. yha.. semoga bermanfaat... untuk yang buka inget like dan komennya yhaaa......

    BalasHapus